SEPATU KACA YANG TERTINGGAL DI ISTANA NEGARA


ADA SEPATU KACA YANG TERTINGGAL DI ISTANA NEGARA

Saban membaca twit Pepo, yang sara rasakan kok, seolah Indonesia sudah dalam kondisi darurat banget, ya?

Padahal Indonesia sedang berjalan biasa saja. Kampanye Pilkada memang berlangsung agak keras, tapi masih wajar. Indonesia ibaratnya seperti lelaki yang sarungan, duduk sore-sre dengan sebatang rokok dan pisang goreng. Ajib.

Tapi entah kenapa, di matanya Indonesia seperti seorang gadis yang telepon kepada cowoknya, "Yang, aku telat..." Semuanya serba salah.

Menjelang aksi 212, SBY melempar komentar, mau sampai lebaran kuda juga demo gak akan berhenti sebelum kasus Ahok ditangani hukum. Kini Ahok sudah diproses ke pengadilan. Tapi rupanya lebaran kuda masih lama.

Lalu dia mencari perhatian dengan twitannya. Cuitannya yang menyebut Tuhan YME, mendatangkan reaksi. Di sana ada kata-kata 'fitnah dan hoax berkuasa'. Orang-orang gampang mengkait-kaitkan maksudnya. Ini arahnya dutujukan Jokowi.

Cukup? Belum. Setelah itu dia merespon lagi tanya-jawab pengacara Ahok dengan KH Ma'ruf Amin. Padahal tanya jawab itu terjadi di dalam persidangan. Pengacara memang mesti mengelaborasi kesaksian saksi JPU. Begitupun nanti JPU akan mencecar habis saksi yang dihadirkan pengacara. Begitulah tabiat sebuah persidangan.

Di luar sidang, Ahok dan KH Ma'ruf Amin sudah menyelesaikan permasalahan secara baik. Permintaan maaf Ahok diterima KH Ma'ruf. Kasus selesai. Tapi SBY ngotot soal adanya penyadapan. Itu dilontarkan seolah Jokowi yang harus bertanggungjawab.

Yang menarik, beliau juga menyampaikan kepada publik bahwa selama ini dia tidak diberi waktu bertemu Jokowi. Apalagi ditambah informasi ada yang menghalanginya. Istana menjawab pertemuan bisa saja, tapi setelah hari pencoblosan tanggal 15 Februari.

Ini jawaban yang asyik. Istana seperti tidak mau direpotkan dengan urusan Pilkada. Jawaban ini membuat saya terhenyak. Jadi ujung dari gundah gulana ini memang semata soal Pilkada Jakarta?

Yang jadi jadi pertanyaan saya, kok cara komunikasi mantan ini dilakukan dengan sindir-menyindir via medsos, sih? Padahal dia pasti punya saluran untuk melakukan komunikasi dengan Presiden. Wong dia 10 tahun jadi Presiden, kok. Kayaknya agak aneh jika dia malah curhat medsos seperti ABG galau yang sedang marahan sama pacarnya.

Lalu dia berharap, pacarnya peka dan menelepon. "Kamu lagi kenapa, beib?"

Atau mungkin juga ini sekadar jurus politik lama. Yang diharapkan adalah lmpahan simpati dari kondisi tertindas. Orang menyebutnya Cinderella effect. Cuitannya seolah menggambarkan jika Cinderella sudah tidak jadi permaisuri lagi, ternyata dia diperlakukan seperti Upik Abu oleh pemerintahan sekarang. Makanya dia menuntut keadilan.

Nah, saya hanya ingin bertanya kepada Pak Jokowi, sebetulnya di istana negara itu ada sepatu kaca yang tertinggal, gak sih?

Comments

Popular posts from this blog

Tidur pake Bra berbahaya bagi kesehatan

Nikita Mirzani pamer payudara

WhatsApp Update Fitur Status video