KISAH RAJA TUA YANG DITINGGALKAN
Setelah sang panglima laskar tiarap ketakutan sambil menahan malu dan cemas akan nasib & masa depannya yang bagaikan pisang di ujung tanduk. Setelah sang ketua lembaga fatwa mundur teratur karena skandal “bisik-bisik tetangga”nya yang mulai ketahuan. Kini sang Raja Tua harus berjuang sendirian untuk bisa terus mempertahankan kekuasaan dinasti keluarganya. Setelah rencananya yang brilian tapi beresiko memecah belah bangsa itu tersingkap kini dia bingung harus mengadu kepada siapa.
Reputasi, nama baik dan kehormatan yang telah dibangunnya selama puluhan tahun kini hilang begitu saja. Masa depan gemilang putra mahkota kesayangannya juga terancam gagal total bahkan ada kemungkinan bisa jadi pengangguran karena sudah telanjur dipertaruhkan dan dikorbankan. Partai persilatan yang dibangunnya secara susah payah juga terancam bangkrut pada laga antar partai persilatan yang akan diadakan 2 tahun ke depan.
Sungguh jurus-jurus maut dari Pendekar Kodok Budiman dan Pendekar Mata Sipit tidak bisa diremehkan. Jurus “mengail ikan di air keruh” yang diandalkannya ternyata justru membuatnya semakin tersudut. Meski dikeroyok 7 juta orang yang teriak "bunuh, salib, gantung, potong, usir" , Pendekar Mata Sipit masih bisa bertahan. Tapi menghadapi orang sekompi saja sang Raja Tua sudah merasa nyawanya terancam dan merasa mau diusir dari negerinya.
Di tengah keheningan malam sang raja tua itu menangis dan tersedu, “Ya Allah, Tuhan YME...... Pak Presiden, Pak Kapolri...... Pak RT dan Pak RW....... Tom & Jerry...... bolehkah saya curhat? Ya jangkrik, ya jangkrik, yaaa jangkriiiikkk.......!!! “ hiks, hiks, hiks...... Prihatin saya kak Emma..
# edisi “Menepuk air di dulang, Terpercik muka sendiri”

Comments
Post a Comment