Bertanya Kepada Bapak Presiden Dan Kapolri
Tidak ada yang lebih membahagiakan selain bangsa ini tidak memiliki mantan presiden yang suka curhat di media sosial. Hilang wibawa bangsa ini jika mantan presiden yang berlatar belakang jenderal suka curhat dan konfrensi pers padahal hanya seorang mantan presiden, bukan artis. Atau mungkin memang sudah merasa sebagai seorang seniman, karena sudah berhasil membuat album lagu dan bisa menyanyi?
Saudara-saudaraku yang mencintai hukum dan keadilan, saat ini di tempat tinggalku “digruduk” hujan deras disertai badai. Anginnya teriak-teriak. Haruskah saya lapor ke polisi? SBY masih mendingan, rumah digruduk bisa lapor polisi. Tapi digruduk hujan dan angin badai, mau lapor ke mana? Cukupkah dengan nge-tweet “Ya Allah, Tuhan YME, hujan dan angin koq jadi begini? Kapan orang yang lemah bisa tidur dengan nyenyak?” Ataukah mungkin tidur itu hanya untuk orang yang lemah saja? Uhuk
Kecuali alam semesta sudah berubah, karena angin dan hujan memang tidak boleh pilih kasih. Apalagi tukang demo, haram hukumnya untuk pilih kasih demi keadilan. Untung BMKG sudah memberitahu kepada masyarakat untuk berhati-hati di musim La Nina ini.
Kemarin yang saya lihat di media sosial banyak tagar #SayaBertanya kepada Bapak Presiden dan Kapolri untuk membela hak bersuara para jomblowan dan jomblowati. Saya prihatin, muda-mudi Indonesia bukan hanya mulai ketularan virus baper karena masalah percintaan tapi juga prihatin terhadap sikap seorang mantan yang tidak menunjukkan sikap negarawan.Saya bertanya kepada Bapak Presiden dan Kapolri, apakah sudah bukan zamannya lagi bertanya kepada ilalang yang dangdutan ketika bertanya pada rumput yang bergoyang sudah terlalu mainstream? Sehingga sedikit-sedikit bertanya pada bapak-bapak sekalian? Mungkinkah karena paradigma masyarakat kita yang meyakini bahwa malu bertanya sesat di jalan? Padahal sudah ada Om Google. Ditambah lagi ada Gojek. Belum lagi masyarakat kita ini terkenal dengan keramahan dan sopan santunnya. Uhuk
Saya bertanya kepada Bapak Presiden dan Kapolri, saya tidak pernah habis pikir, bagaimana mungkin mantan presiden selama S-E-P-U-L-U-H tahun bertanya kepada presiden yang belum cukup 3 tahun menjabat? Untung bagus jika pertanyaannya berbobot, seperti, “Coba tebak, berapa proyek mangkrak di pemerintahan sebelumnya?” Tapi ini? Astaga, pertanyaannya recehan sekali, hanya masalah hak asasi manusia padahal dicubit saja tidak. Lupa bahwa menyalurkan aspirasi juga merupakan hak asasi manusia.Dan bagaimana mungkin seorang yang selalu meminta keadilan tidak bersuara saat Ahok dan keluarga digrudug dan diancam akan dibunuh? Ini pembela keadilan atau pembela diri? Ataukah mungkin keadilan itu hanya berpihak pada dirinya saja? Keadilan macam apa yang ingin dipertontonkan kepada bangsa ini ketika kebijakannya selama ini banyak merugikan rakyat?
Saya bertanya kepada Bapak Presiden dan Kapolri, bagaimana mungkin seorang mantan jenderal tidak tahu jawaban dari pertanyaanya sendiri? Mungkinkah karena memang tidak tahu sama sekali tentang undang-undang di negara ini? Atau mungkin itu indikasi dari caper bin baper?
Saya bertanya kepada Bapak Presiden dan Kapolri, saat saya digruduk angin dan hujan, jantungku berbunyi dag dig dug duer (tidak ada Daia-nya, karena saya pakai Rinso yang bisa mencuci sendiri), begitulah bunyinya.
Mungkinkah begitu juga bunyi jantung pak mantan saat rumahnya digruduk sehingga merasa perlu nge-tweet? Saya tidak habis pikir bagaimana Ahok, istri dan anak-anaknya yang imut-imut itu malah mengaku mau berjuang sampai mati saat digrudug?
Bahkan tidak sempat nge-tweet saking tidak takutnya. Mungkinkah saya juga sudah tertular virus caper bin baper hingga jantungku berdebar persis ketika sedang jatuh cinta?
Oh maaf, sebelum bapak Jokowi bilang, “Itu kan isu penggrudukan dan yang berbicara itu kan Pak Ahok dan keluarganya Pak Ahok. Iya kan? Lah kok barangnya digiring ke saya? Kan enggak ada hubungannya,” sepertinya saya sudah salah alamat. Habis lagi nge-trend sih bertanya kepada Bapak Presiden dan Kapolri 😅😆 Ahok, mana Ahok?
Ternyata, rahasia keberanian Pak Ahok dan keluarga karena berdoanya bukan di media sosial tapi di rumah bersama keluarga. Berdoanya juga bukan hanya saat merasa prihatin saja tapi setiap pagi dalam keadaan apapun itu. Waktu yang ada benar-benar dijadikan waktu yang khusyuk buat berdoa, bukan nge-tweet.
Keluarga Ahok bukanlah seorang pecundang. Segala rintangan dihadapinya, bahkan sampai mau mati demi konstitusi dan ingin dikubur di Indonesia padahal jelas-jelas warga keturunan. Tidak pula bertanya, “Apakah saya memiliki hak untuk tinggal di negeri sendiri, dengan hak asasi yang saya miliki?”
Seorang pahlawan, apalagi seorang negarawan tidak akan pernah melontarkan pertanyaan seperti itu. Mereka sibuk bertanya, “Sudahkah saya melakukan kewajiban saya selaku warga negara ketika negara ini sudah cukup banyak memberikan hal baik bagi saya meski terkadang hak asasi manusia saya dirobek-robek?”
Terus kalau merasa tidak memiliki hak untuk tinggal di negeri ini hanya karena masalah hak asasi pribadi, mau minggat ke bumi datar gitu? Oh, tidak bisaaa.. Tunggu sampai lebaran kuda dulu.
Saya hanya meminta Kaesang yang menjawab. Soal pertanyaan saya yang tidak bisa dijawab, saya serahkan kepada rumput di Hambalang, bukan kepada Tuhan YME. Karena Tuhan pun juga sedang sibuk mengungkap satu per satu kemunafikan di negeri ini.
Bapak Presiden dan Kapolri kerja saja. Tidak usah sibuk nge-tweet apalagi meladeni pertanyaan yang kurang berbobot dan mengandung unsur caper. Cukuplah kami anak muda ababil yang sahut-sahutan di media sosial. Bapak-bapak cari uang saja buat
kami pakai kencan dan membeli minyak rambut untuk menambah pesona kami biar postingan kami tidak curhat melulu masalah urusan hati.
Ngomong-ngomong, salam buat pak Antasari. Dan tentunya salam 2 jari.

Comments
Post a Comment