Ahok Djarot Bisa Menang Satu Putaran
Tabir gelap yang dulu hinggap hingga membuat orang kalap lambat laun terungkap. Tabir gelap penunggang politik yang dulu menyeringai perlahan terkubur.
Persidangan Ahok menjadi kamar operasi "dokter bedah" membongkar motif busuk para penunggang politik. Di sana dibedah isi perut para saksi pelapor tuduhan penistaan agama.
Persidangan panjang itu menarik atensi publik. Begitu antusias publik mengikuti setiap persidangan. Pada titik sidang ke 8 ini, angin panas yang dulu memayungi langit Jakarta berangsur sejuk kembali. Labirin labirin gelap itu tersingkap.
Tentu perubahan temperatur emosi publik itu bukan lahir ujug ujug seperti hujan lebat memadamkan kebakaran hutan di Riau sana. Perubahan trend itu lahir karena akal sehat selalu unggul dari akal akalan siasat muslihat orang jahat. Hanya perlu waktu menjelaskannya.
Menjelang Ahok ditetapkan sebagai tersangka, banyak teman teman bilang Ahok bakal habis. Aksi 411 dan 212 dengan segala narasi melatarinya membuat bulu roma banyak orang berdiri. Terbayang cerita traumatik masa lampau. Tujuh juta orang konon menjadi lautan di Monas. Ngeri gak? Ya ngeri donk Kak Emma kalo barang itu tegang betul dan keras betul. Hihihi.
Saya menulis pandangan saya tentang kejadian kejadian itu. Beberapa tulisan saya meyakini gerakan politik itu akan layu sebelum berkembang. Pentolan pentolan aksi dibelakang layar itu akan diciduk. Tendangan tanpa bayangan Pak De akan menjatuhkan lawan lawannya tanpa disadari para pemilik syahwat durjana itu.
Terus bagaimana garis finish perlombaan sprint rally H-11 menjelang 15 Februari?
Saya teringat pada pilpres 2014 lalu. Dua minggu menjelang hari pencoblosan, selisih survei elektabilitas antara Jokowi JK vs Prabowo Hatta cuma sekitar 1.5% saja.
Saat itu atmosfir kebatinan barisan relawan Jokowi JK terlihat tegang dan cemas. Propaganda hitam lawan terutama media Obor Rakyat berhasil menurunkan elektabilitas Jokowi JK. Jika tidak ada terobosan kampanye bakal merubah keadaan. Bisa berbalik angkanya.
What we should do ? Apa yang harus kita lakukan ditengah trend menurun elektabilitas Jokowi JK?
Pada akhir masa kampanye pilpres, dilaksanakan Konser Salam Dua Jari. Konser Salam Dua Jari dari Slank dan genk ini sukses besar. Spiritnya merambat ke seluruh dunia. Membakar spirit bertarung dan kepercayaan diri para pendukung Jokowi JK kembali.
Kita menangis haru di sana. Saling berpelukan. Tidak disangka para relawan bisa hadir dengan kerelaan berkorban tanpa dibayar sepeserpun. Hasrat ingin mendapat pemimpin yang benar dan baik menjadi modal utama. Hadir untuk membuktikan bahwa kita adalah pemenang.
Jika politik itu tentang persepsi. Maka konser salam dua jari itu berhasil membangun good persepsi buat Jokowi JK. Ada efek glory yang menjalar ke seluruh penjuru negeri.
Selain efek glory Konser Dua Jari yang begitu besar ledakannya, terpelesetnya pentolan Prabowo Hatta dalam bertutur kata juga mempengaruhi kalangan santri. Fachri Hamzah blunder.
Fachri bikin cuitan rencana Hari Santri dari Jokowi itu adalah sinting. Ujungnya para santri marah. Terjadi rambatan kemarahan di kalangan santri terutama di basis santri seperti Jatim, Jateng dan Jabar. Arah angin berbalik arah.
Propaganda Obor Rakyat yang membuat santri percaya Jokowi komunis dan Kristen mendadak runtuh. Gimana gak runtuh, kebanggaan sebagai santri yang ikut berjuang memerdekakan republik dihina oleh pentolan pendukung Prabowo. Blunder bunuh diri. Hihihi
Blunder terakhir terjadi di debat pamungkas. Kasus Kalpataru saat Hatta Rajasa memberikan pertanyaan bikin serepublik tertawa geli. Ujungnya Hatta diledek sampai ngehek. Jatuhlah bobotnya sebagai cawapres. Hihihi.
Tiga kejadian itu akhirnya membawa Jokowi JK naik ke puncak. Tapi tentu saja basis utama kekuatan Jokowi JK memenangkan perebutan kekuasaan itu adalah militansi relawannya yang bagai prajurit tempur pantang mundur.
Bagaimana peluang Ahok Djarot di pilkada DKI 2017 ini? Akankah Ahok Djarot berhasil memenangkan pertarungan ini? Akankah Ahok Djarot bisa melewati dengan menang satu putaran?
Saya yakin bisa. Kemarin saya hadir di Senayan Konser Gue 2. Tidak sulit mengukur apakah perhelatan kampanye itu sukses atau tidak. Ada dua indikatornya. Jumlah massa dan antusiasme massa.
Saya melihat lautan manusia yang bergelora di sana. Saat panas terik membakar kulit para relawan terus bersorak meneriakkan Ahok Djarot. Saat hujan deras turun, mereka tidak bubar berlari meninggalkan lapangan. Tetap bertahan dan berdiri meneriakkan Ahok Djarot.
Para relawan yang datang ke sana karena ikhtiar untuk memenangkan Ahok Djarot. Relawan sadar jika Ahok Djarot gagal maka penderitaanlah yang akan mereka alami selama 5 tahun. Maka jika dipanggang matahari, diguyur hujan lebat itu lebih baik daripada menjalani pemerintahan busuk lima tahun ke depan. Hanya Ahok Djarot yang sudah terbukti dan teruji.
Hasrat, antusiasme, spirit yang kuat dari para relawan yang tidak dibayar sepeserpun inilah kekuatan utama Ahok Djarot untuk memenangkan kompetisi pilkada DKI Jakarta 2017 ini.
Apakah ada peluang Ahok Djarot gagal dan kalah? Selalu ada peluang itu. Politik adalah seni kemungkinan meraih kekuasaan. Mereka bisa gagal jika ada blunder besar kembali dilakukan Ahok menjelang hari pencoblosan.
Blunder itulah yang akan membuat mereka tergelincir. Semoga saja Ahok bisa menjaga irama permainan tetap cool, ceria dan selalu tersenyum sumringah.
Saya melihat dari dekat gesture mimik muka Ahok di panggung Konser Gue 2 kemarin, Ahok terus senyum sumringah. Bawaannya kayak orang Jawa banget. Ahok menggandeng tangan Ibu Megawati sepanjang jalan. Itu hebat. Jaga tensimu ya Pak Ahok.

Comments
Post a Comment